Cerpen: Tak Pernah Meninggalkan

Bruuuk..

Suara tas yang beradu dengan bangku kayu di kuliah sore ini.
Perlahan ku menoleh kearahnya.
"Lagi lagi, dia datang dengan terburu-buru dan nafas tersengal." Pikirku dalam hati.
Pantaslah, rupanya ia berlari dari tangga lantai satu hingga lantai tiga. Padahal dia sudah tahu, dosen kuliah ini selalu saja datang setengah jam lebih lama dari seharusnya.

Kulanjutkan membaca buku yang ada ditanganku, sambil mengunyah permen kenyal berbentuk teddy bear. Setidaknya bisa membunuh rasa bosanku karena dosen yang tak kunjung datang. Aku, masih saja merasa tak nyaman ia duduk disampingku, mendengar nafasnya yang naik-turun tersengal.

Tiba-tiba terdengar suara kecil dari orang itu. “Aduh, buku ketinggalan di musholla lantai satu.”
Peduli apa? jawabku dalam hati.
"Naflah, boleh aku titip tasku sebentar? Buku ku tertinggal."
"Oh, emmm silakan." jawabku dengan sedikit mengangguk.
Kemudian ia segera bergegas menuju lantai satu. Tentu, dengan berlari.

Setengah jam berlalu. Dari kejauhan kulihat dosen sudah menuju ruang kelas. Namun ia, belum juga kembali dari lantai satu. Ah, peduli apa.

Tak lama ia datang. Lagi-lagi, dengan nafas tersengal. Kulihat buku ditangannya. Buku yang biasa saja menurutku. Tapi baginya, mungkin buku itu begitu berarti.

Pikirku melayang. Jika buku favoritnya saja tak pernah ia tinggalkan, maka sudah terbayang, ia tak akan meninggalkan apapun yang ia sayangi.

Sungguh beruntung ya menjadi sesuatu yang ia sayangi. Pikiranku berlalu, seiring perkuliahan sore ini.

Untuk Apa, Jika Semuanya Akan Menjadi Masa Lalu?

Jika derita dan nestapa akan menjadi masa lalu pada akhirnya? Mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa? Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nantinya

Jika kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa tidak dinikmati saja? Sedang keluhan dan isak tangis tak akan mengubah apa-apa

Jika luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa? Sedang ketabahan, kesabaran dan keikhlasan adalah lebih utama.

Jika harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa mesti ingin dimiliki sendiri saja? Sedang kedermawanan justeru akan melipat gandakannya.

Jika kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa mesti membusung dada? Angkuh & bahkan berbuat kerusakan di dunia? Sedang dengan kepandaiannya manusia diminta mengelola dunia dan segala isinya agar adil sejahtera bagi umatNya.

Jika bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa mesti sendiri saja dirasa? Sedang berbagi bahagia akan membuatnya lebih bermakna.

Jika hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka? Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta dan diperbuat


Suatu hari, saat semua telah menjadi masa lalu aku ingin duduk di hamparan taman-taman surgawi. Bersamamu sahabat, bersama orang-orang yg kita cintai, sambil saling bercerita dan bercengkrama mengenai apa yg telah kita lakukan di masa lalu yang indah hingga kita mendapatkan anugerah-keabadianNYA.

-ust. Hilman Rosyad-

good things, in a good and right time :)

good things, in a good and right time :)

"Fa idza ‘azzamta fa tawakkal ‘alallah."
apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.
Cerpen : Introvert
Cerpen : Introvert

"Orang-orang seperti kita ini unik, kita sulit nyambung sama orang lain, tapi orang-orang sejenis kita bisa langsung nyaman saat bertemu”, kata perempuan itu.

"Kepada siapa saja kamu bisa bercerita seterbuka ini?", lanjutnya lagi.

"Hmmm bisa dihitung dengan jari", jawabku sambil berusaha…


tapi terkadang, orang introvert bisa terlihat lebih ekstrovert dalam tulisan :’)

Dakwah adalah Cinta

Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai..

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari..
Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah. Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.
Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.
Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.
Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.
Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.
Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..
Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “
Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu

Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu

Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu

Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu

Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu
(Alm. Ust. Rahmat Abdullah)
"Karena kita adalah potongan hati, maka tiap kata yang tak menyertakan hati (di dalamnya), tak akan pernah menyentuh hati lainnya."
A